EBOOK GAJAH MADA LANGIT KRESNA HARIADI

adminComment(0)
    Contents:

Langit Kresna Hariadi (lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 24 Februari ; umur 54 tahun) adalah seorang penulis roman Indonesia. Mantan penyiar radio ini. Recommends it for: yang suka gajah mada, novel sejarah. Shelves: indo . Akhirnya. Selesai juga baca buku "Gajah Mada" karya Pak Langit Kresna Hariadi ini. Majapahit. Langit Kresna Hariadi adalah pemilik Satya Lencana Kebaktian Sosial, anugerah Gajah Mada: Bergelut dalam Kemelut Tahta dan Angkara.


Ebook Gajah Mada Langit Kresna Hariadi

Author:LASANDRA SWEEDEN
Language:English, Portuguese, German
Country:Czech Republic
Genre:Biography
Pages:112
Published (Last):03.12.2015
ISBN:349-3-55550-641-8
ePub File Size:29.84 MB
PDF File Size:13.12 MB
Distribution:Free* [*Registration Required]
Downloads:28262
Uploaded by: WINFRED

mada perang bubat 4 langit kresna hariadi PDF may not make exciting Download Ebook Novel Gajah Mada Full by Langit Kresna. Langit Kresna Hariadi. JP/Ganug Nugroho Adi. In , Langit Kresna Hariadi authored Gajah Mada, a historical novel portraying the saga of. Author: Hariadi, Langit Kresna, ; Format: Book; x, p. ; 21 cm. Gajah Mada: madakaripura hamukti moksa / Langit Kresna Hariadi. Book Description , Solo: Tiga Serangkai, x, p. ; 21 cm. ISBN, Notes. Novel.

Dari kelima buku seri Gajah Mada, buku inilah yang saya beli duluan. Tadinya saya pikir buku-buku dalam seri ini bisa dinikmati secara terpisah, dan dari semuanya, mungkin fragmen kisah Gajah Mada dalam Perang Bubat ini yang paling menarik buat saya.

Sebagai orang Sunda yang kebetulan menyukai sejarah, kisah Perang Bubat punya romantisme dan heroisme tersendiri. Selalu menarik untuk membacanya, walau ditulis dari sudut pandang tokoh yang tidak sesuku dengan saya. Apa lagi Gajah Mada memegang peranan penting dalam pecahnya Perang Bubat.

Bukankah dapat dikatakan bahwa Perang Bubat terjadi akibat Gajah Mada yang ngotot dengan sumpahnya, padahal Hayam Wuruk dan keluarga kerajaan Majapahit sudah setuju atas pernikahan Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka walaupun Sunda tidak menjadi negara bawahan Majapahit?

Wah, keren banget pasti ini, membayangkan pergulatan batin Gajah Mada plus lika-liku politik dan diplomasi di masa itu. Saat saya membuka halaman pertamanya, saya agak kaget. Jadi saya meneruskan membaca daaan Saya pikir, mungkin Saniscara ini diperkenalkan di novel-novel sebelumnya, mungkin dia siapanya Gajah Mada. Biar ngerti, mungkin saya harus baca dari buku pertama.

Akhirnya buku keempat seri Gajah Mada ini nganggur dengan sabar di rak sementara saya menunggu tabungan saya cukup untuk membeli tiga buku prekuelnya. Akhirnya saat-saat berbahagia di mana saya bisa baca buku ini secara utuh tiba juga dan Saya akan mencoba menjelaskannya tanpa terlalu spoiler-y.

Dalam buku ini, terdapat beberapa subplot. Gajah Mada yang menjadi Mahamantrimukya Amangkubumi dan terfokus untuk mewujudkan Hamukti Palapa-nya diceritakan pada buku ketiga.

Pradhabasu, mantan Bhayangkara yang juga sahabat Gajah Mada, mencari Sang Prajaka, anaknya yang mengalami kelainan jiwa. Kemudian ada juga cerita tentang Riung Sedatu, seorang laki-laki yang amnesia dan mungkin diharapkan menjadi sosok misterius, namun cuma butuh sekejap untuk menebak siapa dia sebenarnya.

Kemudian dari pihak Sunda ada subplot kisah cinta Dyah Pitaloka dengan seorang pelukis bernama Saniscara. Sungguh menjanjikan cerita yang padat, bukan? Pada kenyataannya, sungguh mencengangkan saat melihat jumlah filler yang digunakan dalam cerita ini.

Request this item to view in the Library's reading rooms using your library card. To learn more about how to request items watch this short online video. You can view this on the NLA website.

Login Register. New search User lists Site feedback Ask a librarian Help. Current search limits: Clear format limits. Advanced search Search history. Browse titles authors subjects uniform titles series callnumbers dewey numbers starting from optional. See what's been added to the collection in the current 1 2 3 4 5 6 weeks months years.

Your reader barcode: Mar 17, Ahmad rated it it was ok. Buku ini adalah fiksi , jadi harus dipandang sebagai hasil karya fiksi. Dan menurut saya wajar2 saja jika terdapat ketidak akuratan dg sejarah aslinya jg tanya saya sy ga ngerti sejarah: Ceritanya biasa-biasa saja.

Namun, karena ceritanya sederhana standar folklore jawa , dan mengingatkan cara bertutur mbah saya waktu ndongeng dulu.. P Kalau anda penggemar novel Konspirasi, atau intrik2 Aristrokrasi ini bukan novel untuk anda. Kalo anda berharap belajar sejarah dari novel ini, sebaiknya urung. Tapi kalo mau baca-2 cerita yg ringan untuk sekedar refreshing.. View 1 comment.

Jul 10, Tetuko Nuringtyas rated it really liked it. View 2 comments. Aug 10, Eddy Ruswandi rated it it was amazing. Proceed to Book 2! May 16, Febi rated it really liked it Shelves: Buku ini sedang menyita perhatian saya saat ini, sebuah novel fiksi dengan latar belakang sejarah yang bercerita tentang kehebatan Gajahmada sebagai orang yang berjasa mengantar Majapahit ke puncak kejayaannya.

Buku setebal halaman ini di tulis oleh Langit Kresna Hariadi seorang pengamat sejarah dan mantan wartawan harian umum Abri yang berasal dari Solo. Kisah Gajahmada ini di buat dalam 5 seri yaitu Gajah Mada, Gajahmada Bergelut dalam kemelut takhta dan angkara, Gajahmada Hamukti Pala Buku ini sedang menyita perhatian saya saat ini, sebuah novel fiksi dengan latar belakang sejarah yang bercerita tentang kehebatan Gajahmada sebagai orang yang berjasa mengantar Majapahit ke puncak kejayaannya. Kisah Gajahmada ini di buat dalam 5 seri yaitu Gajah Mada, Gajahmada Bergelut dalam kemelut takhta dan angkara, Gajahmada Hamukti Palapa, Gajahmada perang bubut dan Gajahmada Madakaripura hamukti moksa.

Sekarang saya sedang lanjut membaca buku ke dua.

Get A Copy

Epos ini berlatar belakang tahun , ketika itu majapahit adalah kerajaan megah yang bertakhta di tanah Jawa di bawah pemerintahan Sri Jayanegara. Gajahmada adalah seorang bekel pemimpin Pasukan Bhayangkara, Pasukan Bhayangkara adalah pasukan khusus pengawal raja, kalau sekarang mungkin bisa disamakan dengan Paspampres.

Di buku pertama ini, Langit Kresna Hariadi bercerita tentang Kehebatan Gajahmada dalam menghadapi pemberontakan yang di lakukan oleh Rakrian Kuti, seorang temenggung majapahit yang baru di beri gelar anugrah Rakrian Winehsuka orang-orang yang sangat tinggi pengabdian dan kesetiaannya kepada raja oleh Jayanegara.

Karena godaan yang besar akan kekuasaan untuk menjadi orang nomor satu di Majapahit membuat Ra Kuti memprovokasi temenggung yang lain untuk membuat makar terhadap raja Jayanegara. Rencana sudah di susun dengan sempurna, dengan keyakinan penuh oleh kelompok Ra Kuti bahwa raja Jayanegara dapat di lumpuh kan dengan sangat mudah, akan tetapi dengan kehebatan ilmu mata-mata yang di miliki oleh Pasukan Bhayangkara, akhirnya Gajamada dapet mencium adanya perbuatan makar tersebut, sehingga Raja dapat di selamat kan walau harus merelakan jabatannya di rebut oleh Ra Kuti.

Melalui sebuah lorong rahasia yang berada di dalam kamar tidur raja, Pasukan Bhayangakara dapat meloloskan raja dari kejaran pasukan Ra Kuti. Dan di mulai lah petualangan Gajahmada, bagaimana sepak terjang sang ksatria Gajah Mada dalam menyelamatkan Majapahit dari kehancuran?

Apakah Gajahmada berhasil memenangkan peperangn ini???? Sebagai Karya sastra, novel ini mempunyai keakuratan informasi sejarah, dan layaknya seorang J. Rowling, Langit Kresna Hariadi sanggup menghidupkan tokoh-tokoh dalam novel sehingga memberi keasyikan imajinasi kepada pembaca, kita seolah di ajak langsung dalam jalinan cerita, ikut mencari jawaban akan teka-teki yang tersaji.

Menurut hasil Browsing, Gajahmada lahir pada tahun di lereng pegunungan Kawi - Arjuna, daerah yang kini dikenal sebagai kota Malang Jawa Timur. Sejak kecil, Gajahmada sudah menunjukkan kepribadian yang baik, kuat dan tangkas. Kecerdasannya telah menarik hati seorang patih Majapahit yang kemudian mengangkatnya menjadi anak didiknya, Gajah Mada terus menanjak karirnya hingga menjadi Kepala bekel Bhayangkara pasukan khusus pengawal raja.

Majapahit adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dari sekitar tahun hingga M dan berpusat di pulau Jawa bagian timur. Kerajaan ini pernah menguasai sebagian besar pulau Jawa, Madura, Bali, dan banyak wilayah lain di Nusantara. Majapahit dapat dikatakan sebagai kerajaan terbesar di antara kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara dan termasuk yang terakhir sebelum berkembang kerajaan-kerajaan bercorak Islam di Nusantara.

Buat penyuka novel yang berbau sejarah, buku ini patut di Baca. Dec 19, Nun rated it it was ok Recommends it for: Nov 27, Wulandari Arifin rated it it was amazing.

READ ALSO: HTML EBOOK FOR

Mengharapkan tambahan referensi "pelajaran tentang kebijakan hidup" dari fiksi sejarah bukan hal yang neko-neko, tapi kalau ternyata bs larut dalam cerita keren, alur yg tidak memiliki jeda antiklimaks, bahkan jg selipan humor cerdas. Penasaran baca sekuel ke View all 8 comments. Apr 22, Vanda Kemala rated it it was amazing.

Buku pertama dari pentalogi Gajah Mada, dimulai lewat pemberontakan Ra Kuti yang menurut istilah penulis sedang keracukan klerak.

Cara mengumpulkan kekuatan lewat satuan prajurit, intrik pribadi, penggulingan kekuasaan, mengungsikan raja Jayanegara, loyalitas, juga teka-teki dari sosok dengan sandi "Bagaskara Manjer Kawuryan". Sebagai pembuka, buku ini apik juga bikin semangat buat baca seri berikutnya. Way to go! Aug 03, Bukik Setiawan rated it liked it. Jangan berharap lebih selain membaca sejarah seringan membaca cerita silat. Nov 23, Ardani Subagio rated it it was ok Shelves: Satu lagi buku yang saya tutup sebelum sampai pada halaman akhirnya.

Padahal awalnya saya sempat punya harapan tinggi untuk buku ini. Ketika pertama kali membaca kisahnya, saya merasa buku ini sangat hebat, dan menyegarkan. Hebat karena pak LKH mampu membawa nuansa Jawa kuno dalam buku ini. Bab pertama yang berisi nama2 Raja dan silsilahnya berikut dengan nama gelar mereka memberikan dasar yang baik bagi pembaca untuk tau sekilas tentang kerajaan Majapahit dan kerajaan2 lainnya yang nantinya akan Satu lagi buku yang saya tutup sebelum sampai pada halaman akhirnya.

Bab pertama yang berisi nama2 Raja dan silsilahnya berikut dengan nama gelar mereka memberikan dasar yang baik bagi pembaca untuk tau sekilas tentang kerajaan Majapahit dan kerajaan2 lainnya yang nantinya akan disinggung dalam buku ini. Begitupun dengan pemilihan kata yang digunakan pak LKH.

Pemilihan kata inilah yang bagi saya memberikan rasa "menyegarkan" selama membaca seperempat awal buku ini. Mungkin ini karena saya juga lebih terbiasa membaca buku2 terjemahan, sehingga pemilihan kata seperti "dikemuli" dan bukan "diselimuti" terasa baru walaupun memiliki arti yang sama.

Dan adegan perangnya, bagi saya yang hebat bukan perangnya, tapi bagaimana pak LKH memberi "iming-iming" bahwa akan terjadi perang. Mulai dari kedatangan kabut tebal yang diyakini membawa pertanda buruk, pembawa pesan misterius yang keluar dari dalam kabut, dan aksi Gajahmada yang mesti pontang-panting kesana kemari mencari kebenaran tentang gosip perang yang akan datang. Sungguh, dalam masa ini saya ingin memberi buku ini empat bintang. Dan perang pun dimulai, dan penilaian saya akan buku ini perlahan-lahan mulai menurun.

Bukan berarti adegan perangnya jelek. Saya cukup suka dengan adegan perang di adegan awal buku ini. Saya cuman merasa adegan perangnya terlalu panjang, dan ada terlalu banyak karakter yang terlibat. Bukan cuma Gajahmada dan para pemimpin pasukan, tapi juga anak buah Gajahmada sendiri, Patih yang menjadi atasannya, musuh yang bersembunyi, dan juga beberapa anak buah mereka.

Mungkin saya sudah beberapa kali mengatakan ini di review buku2 lain terdahulu, tapi saya sering bingung membedakan karakter kalau mereka muncul dalam rentang waktu berdekatan dan sama sekali tidak ada pembeda yang jelas diantara mereka.

Selain Gajahmada sendiri, yang menjadi tokoh sentral, satu2nya yang menancap kuat di kepala saya adalah salah satu Rakrian yang ahli pengobatan lupa namanya.

Selebihnya seolah hanya menjadi karakter "numpang lewat". Sekedar ada untuk menjelaskan adegan yang tidak mungkin diketahui Gajahmada. Berhubungan dengan karakter, yang menjadi masalah bagi saya adalah nama mereka. Bukannya saya mau protes nama mereka yang kerasa "jadul banget" karena toh, settingnya emang di jaman dulu , tapi semua karakter di buku ini disebut dengan nama lengkap terus menerus.

Entah apakah itu tokoh penting atau hanya karakter yang numpang lewat itu tadi.

Saya ga ngerti, apa karakter2 itu ga punya nama panggilan yang lebih pendek? Apalagi antar prajurit Bhayangkara yang semestinya sudah saling akrab. Sehingga saya sering merasa aneh ketika pembicaraan antara prajurit Bhayangkara terasa begitu formal. Jauh dari nuansa pembicaraan antar sahabat dekat yang berlatih dan bertempur bersama. Masih tentang karakter adalah sifat mereka yang terlalu hitam putih. Oke, saya memang tidak membaca buku ini sampai selesai jadi saya tidak tahu kalau salah satu dari karakter itu ada yang berubah atau tidak.

Tapi sejauh yang saya baca, karakter2 di sisi antagonis dikesankan terlalu jahat dan berambisi kecuali si rakrian dokter yang kayanya dibikin ga boleh jahat karena wajahnya yang ganteng ; sementara karakter2 protagonis selalu baik dan "putih". Tambahkan atribut "terlalu kuat dan cerdas sampai2 dia jadi prajurit tanpa tanding, dan tanpa banding" dalam diri Gajahmada selaku tokoh utama dan bertambahlah ketidaksukaan saya pada karakter dalam buku ini. Review belum selesai.

Other books: EBOOK FOR COMPUTER

Selain tentang karakter, satu yang membuat saya memutuskan untuk tidak melanjutkan membaca buku ini adalah cara pak LKH menceritakan perpindahan adegan satu ke adegan lain. Pak LKH suka sekali "menceritakan kembali" adegan2 yang baru saja dialami oleh para tokohnya.

Apa maksudnya? Bayangkan Anda membaca potongan adegan si Gajahmada dikejar2 oleh lawannya. Gajahmada dan pasukan Bhayangkaranya melarikan diri diatas kuda, sudah maju lebih dulu beberapa ratus meter sebelum pihak musuhnya mengejar.

Lalu, dengan ilmu panah dan bela diri lainnya, Gajahmada dan anak buahnya berhasil menumbangkan beberapa pasukan pengejar itu sehingga mereka mau tidak mau harus menahan rasa malu dan berbalik kembali ke pimpinan mereka sambil membawa berita mereka baru saja dikalahkan.

Pada paragraf berikutnya, pak LKH menceritakan kembali adegan itu. Dengan cara yang lebih ringkas dan singkat, tapi intinya tetap sama.

Gajahmada yang melarikan diri baru saja menghajar habis musuhnya sehingga mereka harus berlari tunggang langgang kembali ke Tuan mereka.

Gajah Mada

Pertanyaannya, buat apa ngasih tau pembaca lagi soal Gajahmada mengalahkan musuhnya ini? Toh, pembaca sudah melihat sendiri aksi Gajahmada berikut anak buahnya secara langsung sehingga saya merasa tidak ada gunanya penceritaan kembali seperti ini.

Bahkan terasa membuang2 halaman. Entah berapa kali saya berpikir buku ini akan menjadi jauh lebih tipis seandainya Pak LKH tidak menggunakan cara bercerita yang seperti ini. Dan ada juga paragraf yang tidak nyambung antara apa yang diceritakan sebelumnya dengan adegan dialog berikutnya. Contohnya pada bab Sekitar sepuluh atau lebih paragraf awal di bab ini menceritakan after effect perang pemberontakan yang terjadi di bagian awal buku. Dari tatanan negara yang kacau, pasar yang hancur berantakan, sampai anak2 gadis yang luluh lantak diperkosa.

Bahkan kalimat akhir dari paragraf kesekian itu berbunyi seperti ini: Kedua orangtuanya terpaksa harus menjaga gadis itu supaya tidak kehilangan akal.

Padahal dari belasan paragraf sebelumnya di satu bab itu nama Jayanegara sama sekali ga disebut-sebut. Prabu Jayanegara minta disembah Buuu, ga nyambung ah! Dan entah kenapa pak LKH suka sekali mengulang-ulang kondisi Majapahit yang hancur berantakan setelah terjadi perang. Bukan cuma diulangi terus menerus dalam satu bab, tapi pada bab berikutnya diceritakan lagi dan pada bab berikutnya diceritakan lagi kalau Majapahit kacau setelah perang. Plis deh, pak LKH, kita udah tahu Majapahit kacau balau setelah perang semalam suntuk itu.

Jangan diulang-ulang terus dong. Pembaca ga bego kok. Pembaca ga bego. Ah, itu satu lagi kesan yang kudapat dari membaca buku ini setengah jalan. Saya merasa kalau pak LKH menempatkan pembaca buku ini seolah-olah lebih bodoh dari Beliau. Karena itu adegan yang baru saja mereka lihat perlu diulangi sekali lagi. Karena itu mereka perlu dijelasin berulang-ulang kalau Majapahit itu kacau balau setelah perang.

TheJakartaPost

Dan karena itu pula, Beliau harus menjelaskan kalau nama kecil Jayanegara itu Kalagemet, sampai sekitar lima atau enam kali dari titik dimana saya memutuskan berhenti membaca. Dengan cara yang sama pula, selama enam kali menyebutkan kalau Jayanegara sewaktu kecil bernama Kalagemet. Seolah-olah pembaca ga bakal paham kalau cuma dikasih tahu sekali sehingga Beliau perlu menjelaskannya lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi.

In the most boring way possible. Yes, this book is boring. Tapi terima kasih, Pak LKH. Paling tidak sejarah tentang Majapahit yang pernah saya dapat sewaktu SD sedikit diingatkan kembali melalui buku ini. Walaupun caranya masih kurang lebih sama dengan buku sejarah yang saya baca tiga belas tahun lalu itu. Aug 17, Pranisfia Putri rated it liked it. Bagian awal novel terasa cukup membosankan, terutama bagian world building nya. Selain itu, banyaknya kalimat yg diulang ulang seperti kabut tebal, majapahit hancur, gila!

Adegan Gajah Mada dan Gagak Bongol sedikit membingungkan dan tidak konsisten. Di bagian awal disebutkan bahwa banya Gajah Mada yang tau di mana tempat persembunyian Jayanegara.

Sedangkan di baguan berikutnya disebutkan bahwa yg mengetahui persembunyian Bagian awal novel terasa cukup membosankan, terutama bagian world building nya. Sedangkan di baguan berikutnya disebutkan bahwa yg mengetahui persembunyian Jayanegara hanya Gajah Mada dan Gagak Bongol????? Secara keseluruhan, novel ini cukup intriguing, terutama ketika bagian mwmbongkar telik sandi Ra Kuti di tubuh Bhayangkara. Nov 06, Rudy Setiyana rated it it was amazing.

Nov 12, AMEL rated it liked it. Let me read. Aug 22, Biondy rated it liked it Shelves: Butuh 2 minggu bo. Gara-gara sibuk juga sih, makanya baca buku ini jadi tersendat-sendat: D Btw this is one long rant, so brace yourself.

Pada dasarnya buku pertama serial Gajah Mada ini bercerita mengenai bagaimana Gajah Mada memimpin pasukannya untuk merebut kembali tahta Jayanegara, raja Majapahit, yang direbut karena pemberontakan para Rakrian Dharmaputra Winehsuka, yang dipimpin oleh Ra Kuti. Dalam usahanya itu Akhirnya.

Dalam usahanya itu Gajah Mada berhadapan bukan hanya dari tekanan Ra Kuti, tapi juga tekanan dari dalam kelompoknya sendiri, karena ternyata ada seorang pengkhianat yang memihak pada Ra Kuti dan membocorkan setiap informasi yang Gajah Mada miliki. Novel Gajah Mada ini dari segi penceritaan boleh saya bilang "belepotan". Alias bergerak dari satu sudut pandang ke sudut pandang lainnya. Apa yah istilah POV ini? Sudut pandang tahu segala? Bukan hanya Gajah Mada, pasukan Bhayangkara, dan kelompok Ra Kuti yang dia pakai POV-nya, bahkan kadang tiba-tiba orang yang ada di jalan pun bisa dipakai sudut pandangnya.

Hal-hal seperti ini agak mengganggu menurutku dan sebenarnya tidak terlalu perlu. Ceritanya sendiri menurut saya cukup enak untuk diikuti. Bagian depannya memang agak lambat, tapi masuk ke halaman an akhir ke belakang, tempo membaca saya makin cepat. Mengenai tokoh-tokoh yang ada, berhubung ini cerita perang yang melibatkan satu kerajaan, tidak heran ada banyak sekali karakter.

Buat saya tokoh-tokohnya tidak ada yang terlalu menonjol. Ya, bahkan Gajah Mada yang harusnya jadi tokoh utama novel ini. Dia tidak terlalu punya "personality" menurut saya. Malah orang semacam Ra Tanca, salah seorang Winehsuka, lebih membekas buat saya. Selain itu, karakter-karakter yang mati dalam novel ini, semacam Risang Panjer Lawang dan Singa Parepen, mungkin harus lebih diberi porsi.Combine Editions.

Saya awalnya berharap mendapatkan keasyikan seperti ketika membaca pentalogi Gajah Mada, tapi ternyata saya salah. Currently, Langit is finalizing the seven-volume Majapahit saga, which he has committed to a publisher in Yogyakarta. What i learn about this book is, no matter how smart we are, how great we are, if we work for someone we have to obey them. Agak kaget juga saya membaca buku ini.